Selasa, 07 Mei 2013

Enak ya jadi Fotografer

Kalimat diatas rasanya belum pernah saya dengar terucap dari anak-anak yang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak maupun Sekolah Dasar. Ya memang jamaklah…. karena umumnya mereka ingin jadi dokter, insinyur, presiden, pilot, atau polisi??? Alasan utama sepertinya lebih kepada hidup yang harus stabil secara finansial, punya status sosial yang baik, dan segala hal yang terreferensi dari dan pengakuan orang di sekitarnya. Teman saya seorang dokter dan dia berpenghasilan sebulan sebutlah kurang lebih 18 juta rupiah, tetangga di perumahan profesinya insinyur dan dia digaji 15 juta sebulan oleh kantornya, sedangkan fotografer?

Nama-nama seperti Sam Nugroho dan Artli Ali saya berani bilang bahwa waktu kecilpun mereka tidak punya cita-cita menjadi fotografer walaupun saya juga tidak tahu pasti cita-cita mereka dulu apa, ya benar mereka fotografer! Profesional yang kalau kira-kira kasarnya sebulan bisa mengantongi sekitar 150 hingga 200 juta rupiah yang kalau dikonversikan (masih asal juga) setara dengan gaji para direktur BUMN besar di negeri ini. Saya juga jadi ingat kalau ada teman fotografer saya pernah foto untuk 1 project selama 8 hari dibayar 500 juta, atau setara dengan gaji store manager salah satu fast food franchise dari Amerika Serikat selama 100 bulan yang kurang lebih 8 tahun. Itu berarti 8 hari sama dengan 8 tahun . Atau jangan terlalu muluk, beberapa kolega fotografer saya sebulan berpenghasilan antara 7 sampai 30 juta. Sebanding atau bisa jadi lebih dari apa yang di dapat oleh insinyur, dokter, dan pilot. Ya memang juga masih tergantung pada level keahlian, posisi, dan kapasitas dari profesi masing-masing.


Dunia fotografi sekarang sudah menjadi industri yang cukup menjanjikan, ini karena kebutuhan akan jasa (atau barang?) ini semakin meningkat terutama untuk pelengkap media promosi. Di Jakarta saja tercatat sudah puluhan advertising agency besar belum lagi plus advertising agency kecil lainnya. Ini belum ditambah majalah, surat kabar, design house, creative boutique, public relation, dan lain-lain dan lain-lain, termasuk perusahaan produsen itu sendiri. Menakjubkan! Fotografi sudah menjadi Industri! Dan korelasi dari industri adalah bisnis yang bila diterjemahkan dengan amat kasar berarti uang dalam jumlah besar, mmhhh…..

Pada jamuan makan malam di hotel-hotel berbintang-bintang, executive club, golf house banyak didalamnya fotografer sedang bersosialisasi. Gerai Prada, Louis Vuitton, Versace dan merk-merk yang susah untuk dilafalkan tersebut keluar-masuk fotografer yang menjadi langganannya. Belum lagi para customer service brand Mercedez Benz, BMW, Jaguar yang sibuk melayani pelanggannya, yang sekali lagi diantaranya ada fotografer! Impian stabilitas finansial, status sosial, serta gaya hidup bukanlah isapan jempol lagi buat fotografer. Dengan kata lain syarat-syarat kasat mata untuk sebuah cita-cita sudah terpenuhi kalaupun memang itu yang membuat orang dan orang disekelilingnya menjadi bahagia. Kemudian tiba-tiba teman saya nyeletuk, “inget bahagia ukurannya bukan uang saja mas”, setuju sih tapi kan sekarang lagi bahas sesuatu yang materialistis bukan filsafat kan? saya membatin.

Tapi ujungnya balik-balik juga ke kapasitas seorang professional tersebut, mungkin ada juga insinyur yang di gaji cuma 3 juta perak sampai puluhan juta, juga pilot variatif juga pendapatannya begitu juga dengan fotografer, kalau presiden? Waduh gak tahu ya berapa penghasilannya tapi pasti juga tergantung di negara mana dia jadi presiden juga berapa besar korupsinya.

Lantas nanti kalau banyak orang yang mau jadi fotografer bagaimana? Yah balik lagi ke asal, banyak orang ingin jadi pilot, dokter, presiden, dll tetapi tetap saja yang bisa jadi beneran “jadi” juga ada seleksi alamnya dan alasan klasik; gimana orangnya. Jadi seperti profesi lainnya fotografer juga ada yang kere dan ada juga yang super duper tajir.
Tapi kalo aku sih usahain supayaaa bisa jadi fotografer tajir.. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar