Kalimat diatas rasanya
belum pernah saya dengar terucap dari anak-anak yang duduk di bangku
Taman Kanak-Kanak maupun Sekolah Dasar. Ya memang jamaklah…. karena
umumnya mereka ingin jadi dokter, insinyur, presiden, pilot, atau
polisi??? Alasan utama sepertinya lebih kepada hidup yang harus stabil
secara finansial, punya status sosial yang baik, dan segala hal yang
terreferensi dari dan pengakuan orang di sekitarnya. Teman saya seorang
dokter dan dia berpenghasilan sebulan sebutlah kurang lebih 18 juta
rupiah, tetangga di perumahan profesinya insinyur dan dia digaji 15 juta
sebulan oleh kantornya, sedangkan fotografer?
Nama-nama
seperti Sam Nugroho dan Artli Ali saya berani bilang bahwa waktu
kecilpun mereka tidak punya cita-cita menjadi fotografer walaupun saya
juga tidak tahu pasti cita-cita mereka dulu apa, ya benar mereka
fotografer! Profesional yang kalau kira-kira kasarnya sebulan bisa
mengantongi sekitar 150 hingga 200 juta rupiah yang kalau dikonversikan
(masih asal juga) setara dengan gaji para direktur BUMN besar di negeri
ini. Saya juga jadi ingat kalau ada teman fotografer saya pernah foto
untuk 1 project selama 8 hari dibayar 500 juta, atau setara dengan gaji
store manager salah satu fast food franchise dari Amerika Serikat selama
100 bulan yang kurang lebih 8 tahun. Itu berarti 8 hari sama dengan 8
tahun . Atau jangan terlalu muluk, beberapa kolega fotografer saya
sebulan berpenghasilan antara 7 sampai 30 juta. Sebanding atau bisa jadi
lebih dari apa yang di dapat oleh insinyur, dokter, dan pilot. Ya
memang juga masih tergantung pada level keahlian, posisi, dan kapasitas
dari profesi masing-masing.
Dunia
fotografi sekarang sudah menjadi industri yang cukup menjanjikan, ini
karena kebutuhan akan jasa (atau barang?) ini semakin meningkat terutama
untuk pelengkap media promosi. Di Jakarta saja tercatat sudah puluhan
advertising agency besar belum lagi plus advertising agency kecil
lainnya. Ini belum ditambah majalah, surat kabar, design house, creative
boutique, public relation, dan lain-lain dan lain-lain, termasuk
perusahaan produsen itu sendiri. Menakjubkan! Fotografi sudah menjadi
Industri! Dan korelasi dari industri adalah bisnis yang bila
diterjemahkan dengan amat kasar berarti uang dalam jumlah besar,
mmhhh…..
Pada jamuan
makan malam di hotel-hotel berbintang-bintang, executive club, golf
house banyak didalamnya fotografer sedang bersosialisasi. Gerai Prada,
Louis Vuitton, Versace dan merk-merk yang susah untuk dilafalkan
tersebut keluar-masuk fotografer yang menjadi langganannya. Belum lagi
para customer service brand Mercedez Benz, BMW, Jaguar yang sibuk
melayani pelanggannya, yang sekali lagi diantaranya ada fotografer!
Impian stabilitas finansial, status sosial, serta gaya hidup bukanlah
isapan jempol lagi buat fotografer. Dengan kata lain syarat-syarat kasat
mata untuk sebuah cita-cita sudah terpenuhi kalaupun memang itu yang
membuat orang dan orang disekelilingnya menjadi bahagia. Kemudian
tiba-tiba teman saya nyeletuk, “inget bahagia ukurannya bukan uang saja
mas”, setuju sih tapi kan sekarang lagi bahas sesuatu yang materialistis
bukan filsafat kan? saya membatin.
Tapi ujungnya
balik-balik juga ke kapasitas seorang professional tersebut, mungkin ada
juga insinyur yang di gaji cuma 3 juta perak sampai puluhan juta, juga
pilot variatif juga pendapatannya begitu juga dengan fotografer, kalau
presiden? Waduh gak tahu ya berapa penghasilannya tapi pasti juga
tergantung di negara mana dia jadi presiden juga berapa besar
korupsinya.
Lantas nanti
kalau banyak orang yang mau jadi fotografer bagaimana? Yah balik lagi ke
asal, banyak orang ingin jadi pilot, dokter, presiden, dll tetapi tetap
saja yang bisa jadi beneran “jadi” juga ada seleksi alamnya dan alasan
klasik; gimana orangnya. Jadi seperti profesi lainnya fotografer juga
ada yang kere dan ada juga yang super duper tajir.
Tapi kalo aku sih usahain supayaaa bisa jadi fotografer tajir.. :D
Tapi kalo aku sih usahain supayaaa bisa jadi fotografer tajir.. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar